Kenapa Copy yang "Emosional" Sering Kosong Melompong
Semua orang bilang copy harus menyentuh hati. Tapi hati siapa? Untuk apa? Dengan cara apa? Kalau kamu tidak bisa jawab tiga pertanyaan itu, kamu tidak nulis copy emosional. Kamu nulis puisi galau.
Alan Sjahputra
Copywriter · 7 tahun frustrasi terstruktur
Semua orang bilang copy harus menyentuh hati
Saya dengar ini terus. Di workshop. Di kelas online. Di caption Instagram orang-orang yang menjual kelas copywriting dengan harga jutaan rupiah. "Copy yang bagus itu emosional. Menyentuh hati."
Oke. Tapi hati siapa?
Untuk apa? Dengan cara apa? Dan bagaimana kamu tahu kamu sudah menyentuh hati itu, bukan cuma menggelitikinya sebentar terus pergi?
Kalau kamu tidak bisa jawab tiga pertanyaan itu, kamu tidak nulis copy emosional. Kamu nulis puisi galau dengan brief produk.
Masalahnya bukan di emosi
Emosi itu valid sebagai alat. Tapi alat yang dipakai tanpa tahu fungsinya adalah senjata makan tuan. Copy "emosional" yang tidak punya arah adalah copy yang menghabiskan energi pembaca untuk perasaan yang tidak menuju ke mana-mana.
Dan ini lebih berbahaya dari copy yang flat sekalian. Karena copy yang flat cepat dilupakan. Copy emosional yang kosong meninggalkan kesan — tapi kesan yang salah.
Yang perlu ditanya sebelum nulis "emosional"
Sebelum kamu memutuskan bahwa copy kamu harus menyentuh hati, jawab ini dulu:
- Emosi spesifik apa yang relevan dengan keputusan yang ingin dilakukan audiens?
- Apakah emosi itu sudah ada (tinggal diaktifkan) atau harus diciptakan dari nol?
- Emosi ini mendorong ke arah mana — dan apakah arahnya sesuai dengan tujuan copy?
Kalau kamu belum tahu jawabannya, jangan tulis dulu. Research dulu. Ngobrol sama orang dulu.
Lanjut baca
← Semua tulisan